[Cerpen Anak] Si Pengganggu (dimuat di Kompas Minggu, 9 Maret 2008)

February 1, 2015 § Leave a comment

 

SiPengganggu

SI PENGGANGGU

oleh Yunita Candra S (Nita Candra)

Cerpen Anak-Dimuat di Kompas Minggu (9 Maret 2008)

 

 

Mona suka belajar berkelompok. Ia punya teman-teman yang menyenangkan dalam kelompok belajarnya. Ada Abe yang konyol, si kembar Wulan dan Ajeng yang pintar, serta Agung yang pendiam tapi paling rajin mencatat.
Seminggu sekali mereka bergantian berkunjung ke rumah salah satu teman. Di sana mereka membahas tugas yang diberikan guru atau mengerjakan pekerjaan rumah bersama.

Mona senang karena tugas menjadi lebih ringan dikerjakan. Apalagi ada si kembar yang pintar dan tak pelit membagi ilmu. Biasanya setelah belajar, mereka bermain-main di luar rumah. Tetapi ada satu hal yang dihindari Mona selama belajar berkelompok.

“Mona, besok sore kita belajar di rumahmu, ya?” tanya Wulan dan Ajeng di sekolah.
“Wah, jangan deh, di rumah kalian saja,” tolak Mona. “Rumahku sedang diperbaiki atapnya, jadi berisik.”
Selalu saja ada alasan Mona menolak kalau teman-teman ingin belajar di rumahnya. Mulai dari acara arisan Ibu, pembantu pulang kampong, sampai rumah yang sedang diperbaiki.

“Rumahmu belum selesai dibetulkan, Mon? Lama sekali, ya,” tanya Ajeng heran.

Mona tersenyum kikuk. Sebenarnya dinding rumah Mona cuma diplester sedikit, atap yang bocor juga sudah lama selesai dikerjakan Pak Gondo. Mona enggan menerima tamu di rumah karena Didit, adik semata wayangnya. Didit selalu mondar-mandir saat Mona dan teman-temannya belajar, mengoceh keras-keras, membolak-balik halaman buku yang sedang dipakai belajar, bahkan menumpahkan air jeruk ke atas lembar tugas sehingga teman-temannya harus menulis ulang semuanya. Benar-benar melelahkan!  Sejak itu Mona selalu menghindar jika jatah belajar kelompok di rumahnya tiba. Ia merasa sangat terganggu dengan ulah adiknya.

“Enggak apa-apa, Mon, kita belajar di rumahmu saja,” sela Agung, si pendiam ikut bicara. “Sudah lama kan kita enggak ke rumahmu.”

“Enggak… giliranku minggu depan saja, gimana? Mungkin rumahku sudah beres,” kata Mona. Lagi-lagi dia berbohong. Dalam hati ia sibuk memikirkan alasan yang akan ia gunakan untuk menghindari lagi.

Sore itu Mona pulang dengan wajah tak bersemangat. Ibu yang melihatnya heran karena biasanya Mona selalu ceria pulang dari belajar kelompok.

“Ada apa Mona, tugas-tugasmu belum selesai?” sapa Ibu.

Mona menggelengkan kepalanya. Ia dan teman-temannya tadi asyik mengerjakan tugas sambil bercanda dan makan kue buatan ibu si kembar. Tetapi, Mona malah iri karena hal itu tidak bakal terjadi bila belajar kelompok diadakan di rumahnya. Didit pasti akan mengacaukan.

Setelah didesak Ibu, akhirnya Mona menceritakan hal yang mengganggu hatinya. Ibu pun tersenyum maklum. Didit memang anak yang sangat aktif, tak heran banyak orang kerepotan meladeninya.

“Jadi Mona harus bagaimana nih Bu?” Mona memandang Ibu.
Ibu berpikir sejenak, lalu memandang Mona dengan mimik jenaka. “Kita buat rencana yuk!”
“Rencana? Rencana apa?” Mona tak mengerti.
“Ibu tanya, biasanya kalau Mona akan ulangan, apa yang akan Mona lakukan?”
“Emm… ya belajar dong!” jawab Mona.
“Apa saja yang Mona siapkan untuk belajar? Itu tuh, yang sering Mona buat di kertas yang dilipat-lipat.”
“Oh itu, Mona membuat rangkuman bahan pelajaran yang akan diujikan besok.”
Mona memang rajin menulis lagi ringkasan pelajaran di atas lipatan kertas. Cara itu membantunya menghapal inti pelajaran lebih cepat.
“Nah, bagaimana kalau sebelum belajar kelompok di rumah kita, Mona juga membikin rencana?” kata Ibu.
Mona bingung. Apa hubungannya membuat rangkuman dengan masalah Didit?
“Anggap saja Didit itu ujian belajar kalian,” lanjut Ibu. “Sebelum waktu itu tiba, kita persiapkan segala sesuatu supaya Didit tidak mengganggu kalian belajar. Misalnya, bagaimana kalau kalian belajar di teras belakang yang luas, jauh dari makanan dan minuman supaya tidak ada yang mengotori pekerjaan kalian. Buku-buku lama dikeluarkan, untuk dibuka-buka Didit. Jangan lupa sediakan alat tulis khusus buat adikmu itu, juga kertas-kertas bekas. Nanti kalian bergiliran menjaga Didit, sambil mengajaknya menggambar dan bercerita. Kalau dikerjakan bersama-sama, pasti tidak merepotkan. Sebenarnya Didit hanya ikut belajar kok.”
Mona sampai terpana mendengar kata-kata Ibu yang panjang itu. Tetapi ia juga kagum karena ide itu kedengarannya bagus.

Esoknya Mona menyampaikan pada teman-temannya rencana belajar kelompok di rumahnya minggu depan, ditambah strategi menangani Didit. Ternyata semua temannya menyambut seru ide itu.
“Gampang deh Mon!” kata Abe sok dewasa. “Adikku kan dua. Jadi aku sudah biasa main sama anak kecil!”
“Iya Mon, aku senang kita bergantian menjaga Didit,” kembar mengangguk kompak.

Saat hari itu tiba, Mona merasa sangat senang karena semua berjalan lancer. Meski Didit terkadang masih rewel meminta perhatiannya, tapi berkat persiapan yang sudah ia dan teman-temannya lakukan, akhirnya Didit lebih banyak duduk manis di sebelah mereka.
Hasilnya? Tak hanya tugas-tugas sekolah yang selesai, tetapi juga berlembar-lembar hasil coretan krayon Didit dan puluhan bentuk origami berserakan.
“Asyik deh Mon, belajar di rumahmu bisa sekalian belajar punya adik,” kata Agung sambil tertawa.
Mona tersenyum lebar. Wah, ternyata untuk belajar kelompok saja butuh strategi!

———–

Cara mengirim Cerpen Anak Kompas Minggu:
Panjang tulisan 3-4 halaman, diketik dua spasi
Dikirim ke: Redaksi Kompas Anak, Jl. Palmerah Selatan No. 26-28, Jakarta, 10270
Atau via email ke: kompas@kompas.co.id (tulis Subjek yang jelas: Naskah Cerpen Anak-Kompas Minggu)

Advertisements

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [Cerpen Anak] Si Pengganggu (dimuat di Kompas Minggu, 9 Maret 2008) at Little Cubicle.

meta

%d bloggers like this: