Cerpen ‘Dua Monolog Cinta’ di Majalah Story Edisi 53/Maret 2014

March 8, 2014 § 24 Comments

Alhamdulillah, cerpen saya dimuat di Majalah Story bulan ini. Rasanya udah lama sekali sejak terakhir kali saya menulis cerpen dan dimuat di media 🙂

Selamat membaca.

 

Cerpen-Story 53

DUA MONOLOG CINTA

Majalah Story Edisi 53/Th V/Maret 2014

oleh Nita Candra

Jess

Oke, aku akan mengatakan yang sebenarnya.
Boneka beruang raksasa pemberianmu tadi memang cute (tapi bikin aku bersin semalaman ini—bulunya bikin gatal). Aku memang tersenyum menerimanya, setidaknya di depanmu.
Tapi sumpah—sebenarnya aku sebel pas kamu tinggal landas tadi. Sedih. Banget. Kenapa sih semua orang yang kuanggap keluarga satu per satu ‘menjauh’ dariku—macam aku ini wabah.
Pertama, Papa dan Mama lebih dulu ‘pergi’—lalu Kak Aldo. Mereka ada, tapi seperti tidak ada. Sekarang kamu, Mel.
Padahal dua tahun terakhir ini, aku lebih banyak bercerita padamu, daripada orang lain. Mungkin seharusnya aku memilih sahabat yang nggak jenius sepertimu, ya? Yang bakalan dapat beasiswa ke luar negeri, dan ninggalin aku.
Bahkan Skype tidak akan bisa bikin aku puas ngobrol denganmu nanti.
Ya ampun, aku mulai sedih lagi.

**
Suara motor Aldo yang berisik memasuki halaman samping rumah. Cowok itu mengerutkan dahi melihat sepasang sepatu di depan pintu. Jessica ada di rumah? Tumben siang-siang begini Si Kutu Buku itu sudah pulang.

“Bau apa nih?” seru Aldo sambil memasuki rumah, mencari-cari sumbernya.

Aroma lezat memenuhi udara. Di dapur, Jess mengaduk-aduk panci di dapur tanpa menoleh.

“Ha? Kamu masak, Jess?” Aldo ngakak. Jess memajukan bibir kesal. Oh, kakak tunggalnya itu memang tidak peka sama sekali.

“Tapi baunya enak banget!” Aldo mengendus-endus di sebelah panci. “Sebentar… ini soto, kan? Woow, Jessica memasak soto! Sejak kapan kamu mulai memasak?”

Sejak kamu dan Papa-Mama jarang ada di rumah kita.

“Jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta ya?” kata Aldo sambil cengengesan, berjalan keluar dapur menuju kamarnya. Terdengar suara mengobrak-abrik—entah apa yang dicari cowok itu.

Jangan bicara soal cinta! Aku mau muntah.

“Atau kebalikannya, kamu lagi sakit hati banget, dan tiba-tiba punya ide gila memasak. Yang mana yang benar?” Aldo sudah kembali ke dapur, dengan jaket kulit andalannya tersampir di bahu.

Kenapa sih kamu cengar-cengir melulu? Aku sedang sangat sed

Dering HP Aldo berbunyi.
Cowok itu berjalan tergesa ke ruang tengah. Jess masih mendengar nada suara kakaknya yang mendadak sok romantis dan penuh perhatian, “Udah selesai, San? Kok cepat? Oke deh, tunggu aja di tempat biasa ya? Enggaak, nggak lama kok. Bye!”

Mata Jess memanas ketika mendengar Aldo berseru riang di pintu dapur, “Tapi sumpah, aroma sotomu mantap abis! Sisakan untukku nanti malam ya Jess!”

Setelah itu derum motor bututnya menggelegar, dan lenyap di tikungan jalan.
Jess menatap masakannya di panci.

Aldo benar. Seharusnya aku berada di kampus, perpustakaan, di taman kota, atau di mana sajalah. Asal bukan di rumah ini. Dan memasak soto? Memangnya siapa yang akan menghabiskannya? Ini memang ide gila.

Gadis itu mematikan kompor, melempar celemek, meraih tas cangklong dan keluar rumah dengan membanting pintu.

**

Aldo

Apa sih nama perasaan ini?
Sedih? Aku tidak yakin cukup bersedih melihat Mama akhirnya akan menggugat cerai Papa. Sisi baiknya, aku dan Jess tidak akan melihat mereka perang lagi di rumah, ya kan?
Mungkin aku tidak bersedih, tapi… terluka.
Aku sulit percaya cinta di antara mereka berbalik menjadi kebencian yang… amit-amit, deh. Seolah-olah mereka tak pernah kenal sebelumnya. Haloo? Mereka sudah berumahtangga sama lamanya dengan umurku—ditambah satu tahun. Apakah cinta bisa menjadi berantakan seperti ini?Meski tanpa kehadiran orang ketiga?
Aku jadi ngeri.
Aku takut mencintai Susan (sebentar, apa aku benar-benar mencintai cewek itu?)
Aku takut berada di dekat Papa dan Mama, karena pasti mereka akan berkeluhkesah tentang hidup mereka (dan ujung-ujungnya mempertanyakan kesetiaan cinta).
Oh, yang benar saja. Bukankah seharusnya mereka yang lebih paham daripada aku?
Satu lagi yang menyebalkan.
Jessica sekarang semakin sering ngambek. Ya ya, aku tahu dia kehilangan sahabatnya, Amel, si jenius yang akhirnya berangkat ke Australia. Tapi nggak usah lebay kayak gitu deh. Sampai menjalankan aksi bisunya yang sumpah-nyebelin-abis itu. Bikin rumah tambah sumpek.
Untung Susan nggak sering marah-marah. Kalo marah juga nggak lama.
Jadi aku masih betah jalan sama dia.
Sebentar, apa ini berarti aku sungguh-sungguh cinta Susan—dan bukannya hanya pelarian masalah dari rumah?

**

“Kok rumah kotor sekali, Do?” suara Mama melengking dari halaman belakang. Setelah dua hari ‘mengungsi’ ke rumah salah seorang kerabat, wanita itu kini berjibaku membereskan rumput dan tanaman-tanaman jualannya.

“Papamu bilang apa kemarin? Tetap nggak mau datang sidang, kan?” tanya Mama lagi, kali ini beliau menyeret satu plastik besar berisi pupuk kandang ke dekat deretan polybag yang setengah terisi. Aldo sedang bersiap-siap di dekat pintu halaman belakang. Cowok itu memutar bola matanya. Please Ma, jangan pertanyaan itu lagi!

“Aku nggak tahu, Ma,” gumam Aldo malas.
“Apa Papamu bertanya-tanya hal lain?” desak Mama, masih berdiri di depan putra sulungnya.

Kenapa Mama tidak menanyakan soal nilai kuliahku yang jeblok sekalian sih? Supaya hariku tambah berantakan, gitu. Betapa tidak enaknya ada di antara dua orangtua yang sedang bermasalah!

“Do! Ini penting buat Mama!” suara Mama mengeras. Aldo mengangkat bahu. Cukup sudah. Dengan memaksakan sebuah senyum, ia meraih tangan Mama dan menciumnya. “Maaf Ma, Aldo ada ujian susulan hari ini.”

Jess yang muncul dari dalam rumah menunduk dalam-dalam, juga mencium tangan Mama. “Jess juga pamit, Ma,” katanya pelan.

“Jess, apa Papa bilang sesuatu sama kamu?” Oh, Mama masih gigih menanyakannya. Jess hanya menggelengkan kepala. Aksi bisu seperti biasa.

Aldo mendesah, melangkah keluar, disusul Jess. Meninggalkan Mama yang masih melontarkan pertanyaan bernada putus asa. Di depan gerbang, sebuah taksi berhenti. Papa keluar dari dalamnya. Aldo dan Jess tertegun. Mama menatap nanar dengan kantong plastik masih di tangan. Hanya butuh waktu sepersekian detik bagi Papa untuk kembali masuk ke dalam taksi dengan membanting pintu, dan pergi dengan suara berderum.
Aldo mendengus, menuntun motor keluar. Jess semakin menunduk, melangkah ke arah berlawanan. Mama masih diam di tempatnya.
Kehidupan yang aneh.
**
Jess

Mel, aku benar-benar bingung harus bersikap seperti apa. Kuliahku dan Aldo mulai terlihat menuju jurang kehancuran. Yeah, kamu pasti akan bilang lagi: berlebihan banget sih lo!
Untuk kehidupan sesempurna milikmu, kehidupanku memang terlalu absurd. Dan apa kamu bilang kemarin ketika kita ngobrol di Skype? Bahwa aku tidak boleh pesimis pada kata bernama CINTA?
Haha.
Aku baru saja mengibarkan bendera perang pada kata itu, Mel.
Jangan pernah sebut itu lagi—setidaknya sampai Aldo berhenti membual soal Susan (kupikir-pikir kakakku itu sudah sinting, berani menjalin cinta dengan teman kuliahnya itu, padahal Papa Mama jelas-jelas memberi contoh mengerikan bagaimana cinta itu bisa berubah menjadi mimpi buruk), atau sampai aku puas mensyukuri statusku yang single sampai saat ini.
Yeah, setidaknya, aku tidak perlu sakit hati memikirkan cowok yang memintaku melangsingkan tubuh atau menjaga penampilan, alih-alih membahas isu-isu yang lebih cerdas dan bermanfaat.
Aku ngomong apa sih, Mel?
Sepertinya aku akan pulang larut lagi hari ini. Sama seperti malam-malam sebelumnya.

 

**

 

“Jadi Kakak nggak mau anter aku?” suara Jess meninggi.
Sudah lama Aldo tidak mendengar suara adiknya setajam itu. “Jess, hari ini aku udah janji menjenguk ibu Susan…”

“Lagi-lagi Susan! Saudara Kakak siapa sih? Susan atau aku? Dia cuma orang asing!” tukas Jess. Mungkin ini siang yang sial buat Aldo, karena Jess siap menumpahkan semuanya. “Ini pertama kalinya aku dipercaya menjadi wakil perpustakaan daerah ke tingkat propinsi. Ini impianku, Kak! Satu-satunya yang bikin aku bisa berpikir normal di antara keanehan keluarga kita. Dan aku hanya ingin minta diantar sampai ke terminal…”

“Acaranya besok, kan? Bagaimana kalau besok saja kuantar langsung ke sana?”

“Kakak gimana sih? Memangnya kita mau berangkat pukul berapa dari sini? Jam empat pagi? Acaranya pagi sekali dan di luar kota!”

“Kenapa kamu selalu benci sama Susan, Jess?” Aldo tak kalah gusar mendengar kekasihnya disebut-sebut. “Kamu menyebalkan sekali belakangan ini.”

Kata-kata yang seperti sebilah pisau, mengiris hati Jess. Dengan susah payah menahan air mata dan amarah, cewek itu berdiri, “Ya, aku memang menyebalkan. Tapi aku nggak sendirian. Karena Kakak, Papa, dan Mama sama menjengkelkannya! Tahu tidak, seandainya aku lenyap ditelan bumi pun sepertinya kalian tidak sadar, dan terlalu sibuk dengan urusan masing-masing!”

Jess berlari ke jalan, dalam sekejap hilang ke dalam angkot yang lewat tak jauh dari sana.
Aldo menahan gemuruh dadanya. Marah. Juga merasa tertampar.

**

Aldo

Gila.
Aku baru pulang dari mengantar Susan (dan mengurus ibunya pulang dari rumahsakit), dan menemukan kalau Jess benar-benar nggak pulang malam ini. Papa-Mama juga tidak ada satu pun yang nongol di rumah (padahal biasanya mereka bergantian datang, atau kalau pas sial malah bersama-sama muncul di depan rumah).
Meskipun aku lebih keterlaluan kalau urusan pulang malam, tapi setidaknya ketika dini hari aku masih bisa melihat Jess di kamarnya.
Dan melihat rumah gelap gulita, kosong ini, membuatku merinding. HP Jess tidak aktif—atau dia sengaja?
Apakah doa Jess untuk lenyap ditelan bumi terkabul?
Jess, mudah-mudahan kamu nggak segila itu.

**

“Masa’ kamu nggak tahu no teleponnya Amel, Doo? Amel itu sahabat adikmu!” jerit Mama. “Atau siapalah keluarganya yang lain di sini?”

Aldo yang berkutat di depan komputer mengusap keringatnya. “Iya, iya. Sabar Ma. Ini lagi Aldo usahakan cari di Facebook. Teman-teman Amel di kosnya nggak ada yang tahu nomor baru Amel di Toronto.” Di dalam hati cowok itu menambahkan, kenapa hanya aku yang wajib tahu soal sahabat Jess? Seharusnya Mama yang lebih tahu dong!

“Sabar? Ini sudah dua hari sejak Jessica hilang dari rumah!” Mama mondar-mandir dengan panik. “Kamu sudah cek lagi ke panitia lomba? Ya Tuhan, kita bahkan nggak tahu kalau Jess ikut kompetisi dan menang!”

Aldo memandang layar komputer. Sejak tadi ia berusaha mencari kontak Amel di internet. Blog. Daftar alumni. Email. Apa pun. Mama benar, ia sama sekali tak tahu hal-hal tentang adiknya belakangan ini. Ia hanya tahu kalau satu-satunya orang yang masih sering berhubungan dengan Jess adalah Amel—yang berada di benua berbeda.

Ironis.

“Rasanya kita semua sudah seperti orang asing, Ma..,” desah Aldo, masih menatap barisan huruf di depannya. Hatinya ngilu memikirkan adiknya.
Mama menangis, entah untuk keberapa kalinya. Aldo mendadak ingin merangkulnya. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat?

**

Aldo

Hari ketiga. Aku benar-benar bisa gila.
Jess sangat jarang meng-update Facebooknya, tapi dari list temannya yang sedikit itu aku menemukan nama Amel, tapi sialnya dia baru membalas message-ku setelah hampir sehari!

Amel bilang kalau Jess terakhir menghubunginya dua hari lalu, lewat email. Kata Jess, dia sedang ‘ingin sendiri dan menyelesaikan semuanya’. Ya Tuhan, aku tidak ingin berpikir yang bukan-bukan, tapi aku terakhir bertemu dengannya dalam keadaan bertengkar dan aku merasa jadi orang paling goblok setengah mati sekarang.
Bisa-bisanya aku mengabaikan perasaan dia selama ini. Jess kesepian. Sedih. Dan aku memperparahnya dengan melupakan dia—aku lari dari rumah, aku lupakan kesedihanku sendiri bersama Susan.
Jess, kalau pun kamu datang sebagai adik yang seribu kali lebih menyebalkan dari sekarang, aku rela. Asal kamu pulang! Please balas emailku, atau aktifkan HP-mu.

**

Tiga hari pencarian yang melelahkan membuat Aldo terlihat kuyu.

Mata Mama yang cekung menatap layar televisi. Baru saja Papa menelepon, melaporkan pencariannya yang nihil.
Aneh rasanya. Sejak lenyapnya Jess, suasana perang menghilang. Seperti orang-orang yang lelah bertikai dan kini semua tergeletak tanpa tenaga. Rasa kehilangan itu menggelayuti setiap sudut hati orang-orang di rumah ini.

“Jess pasti baik-baik saja kan, Do?” suara Mama serak.

“Tentu, Ma.”

“Dia pasti masih menyayangi kita kan, Do? Dan akan pulang?”

“Pasti, Ma.”

Mama mendesah. Melihatnya duduk sendiri di atas sofa, berwajah lelah dan sedih, Aldo baru menyadari betapa berat beban ibunya itu—di luar masalah Jess, mungkin perceraian memang jalan terbaik untuk Mama dan Papa. Seandainya mereka ada di ruangan yang sama saat ini, Aldo bisa membayangkan perang kata-kata, saling menuding siapa yang patut disalahkan atas hilangnya Jess. Atau atas apa pun. Entahlah. Tapi satu hal yang pasti…

Kesadaran itu menggerakkan Aldo beringsut mendekati ibunya.

“Ma, aku sayang Mama.”

Mama menoleh terkejut. Matanya mulai berkaca-kaca. Mata Aldo juga.

“Dan kita pasti bisa menemukan Jess, Ma.”

**

Jess

Mel, aku sekarang percaya, kalau semesta itu menjawab harapan kita.
Seperti kamu bilang dulu: mikir yang baik-baik aja, Non. Bikin awet muda karena dunia di sekeliling kita ikut mendoakan!
Yeah, you’re definitely right.
Tapi sebelumnya maafkan aku kalau kegilaan ini kumulai tanpa memberitahu siapa pun, termasuk kamu.
Setelah lelah menjadi cewek pengeluh (ya ampun, aku malu mengingatnya) hampir sepanjang tahun, sepertinya aku berhasil bangkit, Mel. Jadi pemenang di lomba pustakawan itu belum ada apa-apanya. Karena hari itulah aku jadi benar-benar nekat, tapi aku tidak menyesal melakukannya!
Hari itu aku pergi ke luar kota sendiri, mewakili perpustakaan tempatku magang. Aku jadi pustakawan terbaik, Mel! Ketika piala itu diserahkan ke tanganku, dan uang hadiah itu kuterima di panggung, aku baru melihat dengan jelas. Di barisan paling depan, duduk anak-anak panti asuhan penyandang cacat yang diundang khusus oleh perpustakaan propinsi.
Bayangin deh Mel, mereka nggak hanya cacat, tapi juga tak punya orangtua lagi!
Kurasa itulah tamparan terkeras yang pernah kudapat dari Tuhan. Aku, si Nona pengeluh-dan-merasa-paling-merana-sedunia tidak bisa berkata apa-apa kecuali menangis.
Aku hanya mengalami krisis perasaan, tapi merasa seolah dunia kiamat. Memalukan.
Jadi begitulah. Ide sinting itu datang begitu saja.
Aku tidak pulang ke rumah. Tapi ke panti asuhan bersama mereka. Menghabiskan uang hadiahku untuk membelikan komputer dengan fasilitas audio khusus penyandang cacat. Bermain bersama mereka. Tidur di atas kasur tipis, berjajar seperti dendeng dijemur, bersama puluhan anak dalam ruangan berkipas angin tua. Membiarkan hatiku jatuh dan jatuh pada kebersahajaan mereka.
Aku pulang setelah empat hari kabur. Kak Aldo, Mama, dan Papa marah besar, tentu saja. Tapi mereka sudah memaafkanku. Tahu tidak? Aku sangat-sangat-senang dimarahi. Aku jadi diperhatikan! Aku bahagia!
Aku melakukan ini semua, karena ingin menyembuhkan diriku sendiri, lalu pulang ke keluargaku dengan sosok Jessica yang lebih baik.
Apa? Kamu tidak bisa membayangkan aku yang lebih baik?
Sialan! Haha. Kamu memang sahabat terbaikku.

[Selesai]

Story 53-Cerpen

Thank you 🙂

Advertisements

Tagged: , , , , , , , , , ,

§ 24 Responses to Cerpen ‘Dua Monolog Cinta’ di Majalah Story Edisi 53/Maret 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cerpen ‘Dua Monolog Cinta’ di Majalah Story Edisi 53/Maret 2014 at Little Cubicle.

meta

%d bloggers like this: