[Flash Fiction] It’s (Not) a Bad Day

May 3, 2011 § Leave a comment

 

 

Lembar permainan ludo dan monopoli.

“Nah, pilih yang mana?”

Aku hanya melongo melihat dua benda ‘purbakala’ yang kini digeletakkan Dan di atas rumput taman. Matahari sore memantul di atas kertas berlapis mengilap itu. Kapan terakhir kali aku mengambil Kartu Dana Umum atau Kartu Kesempatan permainan monopoli? Waktu SMP, mungkin. Itu ribuan tahun lalu (dalam skala waktuku, tentu saja).

Dan yang lebih penting lagi, kenapa Dan membawa benda jadul itu sore ini? Lihat, bahkan dua anak pemulung yang sedang bermain layangan tak jauh dari kami pun ikut menoleh. Keheranan melihat sepasang mahasiswa sedang duduk tapi membahas permainan bocah.

Sungguh ‘nggak nyambung’, karena aku sebenarnya pusing dan ingin ketenangan—tapi Dan malah mengajakku jalan kaki di sepanjang jalan protokol, dari kampus sampai ke taman ini, membuatku lelah bukan main, dan kini mengajakku bermain…

“Ludo sajalah.” Akhirnya kujawab karena desakan Dan yang tampak bersemangat (sungguh, kurasa sore ini dia wujud bocah enam tahun generasi 90-an yang sedang keranjingan permainan dengan dadu—ya ampun, aku baru sadar ini permainan yang kuno sekali).

“Kenapa ludo?” Dan mulai mengeluarkan dadu dan pion plastik dari tasnya.

“Aku selalu jadi miskin kalau main monopoli,” sahutku asal. Dan meringis.

Jadi, kami mulai bermain ludo.

Lama tanpa ada yang berbicara. Padahal aku ingin menangis. Tapi menangis adalah hal terakhir yang ingin kulakukan di depan Dan, meski duniaku sedang tidak ramah dari segala arah.

“I think I know how you feel,” Dan berkata, melempar dadunya dengan riang.

“You don’t even wear my shoes, so stop saying that you know how my feeling is, okey?” semburku, senang mempunyai alasan untuk melampiaskan kesal. Aku melempar daduku terlalu jauh ke rumput.

“Hei, angkamu bagus!”  Dan yang mengambilkan daduku, mengabaikan tatapanku yang galak.

“Sudah dua pion masuk ke rumahmu. Aku satu saja belum.”

Yeah, seolah aku baru dapat undian rumah. Aku memutar bola mata.

Sementara Dan asyik bermain, aku membuang pandangan ke sekelilingku. Taman kota cukup ramai. Tapi hanya dua anak pemulung itu yang masih mencuri-curi pandang ke arah kami sambil main layangan. Hah, aku merasa kian aneh.

“Coba lihat, kamu tinggal satu pion lagi,” Dan nyeletuk. Aku bahkan tak tahu sudah berapa kali aku mengocok dadu—dan, sebenarnya aku menjalankan pion warna biru atau merah, sih? Aku lupa di mana menaruh otakku, tampaknya.

Tapi Dan tetap asyik bermain, seolah wajahku yang jauh dari ramah dan dadu yang bolak-balik terlempar jauh dari tanganku (aku ngaku, kadang aku sengaja melakukannya. Aku kan sedang kesal) tak mengganggunya sama sekali.

“You know what, May. Rumahmu mungkin sekarang seperti neraka, kampus mungkin sedang tak bersahabat, tapi di atas kertas ludo ini, kamu punya kemenangan. Lihat, aku kalah, kan.”

Seharusnya aku menganggap kalimat itu sangat bodoh. Apa pentingnya permainan ludo dibanding problem hidupku yang super penting?

Tapi aku—anehnya—malah tersenyum, geli bercampur kesal.

“Ya ampun Dan, kamu mau bilang kalau ludo ini akan menyelamatkan hidupku hari ini? Sumpah, nggak lucu.”

“Tapi faktanya kamu menang ronde pertama!” seru Dan nggak nyambung. “Aku juga mau menang. Yuk kita main sekali lagi.”

Aku menghela napas.

Dua kali putaran berikutnya aku menang lagi. Omelanku jauh berkurang.

Di permainan keempat aku malah sudah bisa memusatkan pikiran ke lembar permainan ludo. Aku makin terheran-heran ketika menyadari bahwa aku memang beruntung, karena menang lagi. Aku bahkan merasa geli melihat wajah Dan yang berpikir keras karena selalu kalah. Aku tahu dia sungguh-sungguh, soalnya dia cowok yang ‘paling nggak bisa akting’.

Aku mulai lupa masalahku, dan dua anak di dekat kami sudah berhenti bermain layangan. Mereka berjongkok menonton dari jauh sambil saling berbisik.

“Aku bosan kocok dadu terus,” akhirnya aku berkata pada Dan. “Aku ngantuk dan capek.” Angin mulai bertiup agak kencang. Membawa sebagian kesalku ke angkasa.

Dan mengangkat bahu, “Ya udah.” Dia diam sejenak, lalu berkata lagi, “Nah, harimu nggak terlalu buruk, kan? Empat kali menang ludo.”

“Yeah, usahamu menghiburku benar-benar aneh,” aku mengecamnya, tapi Dan tahu aku sebenarnya ingin mengatakan, “Makasih ya udah berusaha, meski gagal.”

“Setidaknya ada hal baik yang bisa kamu ingat di saat hari buruk,” kata Dan. Teori yang jarang berhasil kalau dirimu sedang sangat-sangat bete dan kesal, batinku setengah membantah.

Dan melirikku yang bersiap berdiri dengan malas.

“Mau melakukan satu hal lagi yang bikin harimu lebih baik?” tawarnya.

Aku mengerang. Apa itu, sesuatu yang lebih ajaib dari permainan ludo?

“Lihat ini.” Dan menggerakkan kedua bola matanya memandang ke tengah-tengah hidungnya, dan menoleh ke arah anak-anak yang masih berjongkok mengamati kami. Dengan senyum selebar mungkin, tampang Dan benar-benar tampak tak waras, namun tentu saja lucu di mata anak-anak. Buktinya, kedua anak pemulung itu—meski awalnya kaget—kini tertawa cekikikan.

Mata Dan kembali ke posisi normal, dia mengacungkan jempol ke anak-anak itu.

“You’re insane.” Aku mengucapkannya sambil tertawa.

Dan sore itu aku diajari bermain layangan oleh salah satu anak pemulung. Sedangkan Dan asyik meneruskan ludo-nya dengan anak yang satu lagi.

Sore yang aneh. Lebih aneh lagi adalah, aku tertawa cukup banyak.

Aku tertawa ketika tali layangan pinjamanku malah menyambar topi seorang mas-mas yang lewat (untungnya dia tidak marah, lihat, aku beruntung lagi, bukan?), serta saat melihat wajah sumringah kedua anak pemulung itu ketika Dan memberikan permainan ludo dan monopoli miliknya, juga ketika kami membelikan lima layangan baru dari pedagang terdekat untuk mereka.

Aku jadi punya ide. Seperti dalam film Monster Inc., kuibaratkan aku mempunyai persediaan tawa yang kusimpan di dalam sebuah tabung, dan akan kukeluarkan di saat aku membutuhkan energi positif di hari-hari buruk.

Yeah, maybe this day wasn’t so bad.

 

(by nita)

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [Flash Fiction] It’s (Not) a Bad Day at Little Cubicle.

meta

%d bloggers like this: