[Flash Fiction] Tentang Memori

September 26, 2010 § Leave a comment

Dan,

Pernahkah kamu memikirkan, kenapa kita masih bisa mengingat kejadian saat kamu melempar sandal Ken ke dalam kubangan kotor di dekat hutan kota kecil kita dulu?

Aku jelas merekam wajahnya yang dongkol setengah mati, lalu kalian berkejaran sampai salah satu jatuh. Lei merangkulku dan kami berdua tertawa habis-habisan, melihat kalian yang belepotan lumpur.

Itu kejadian dua puluh lima tahun yang lalu.

Ajaib bukan, bagaimana otak kita mampu menyimpan sekeping memori masa kecil, hingga puluhan tahun kemudian? Aku tak terlalu paham ilmu tubuh manusia (tepatnya: aku tak berbakat soal biologi, anatomi, atau sejenisnya). Yang kutahu, memori itu tersimpan berkat kemampuan ajaib otak melakukan tugasnya.

Meski sebagian besar telah kita lupakan (oh, kadangkala aku sangat bersyukur karena kita diberi kesempatan ‘lupa’ pada peristiwa menyedihkan di masa lalu), namun tetap ada bagian yang akan selalu kita ingat.

Kenapa kita mengingatnya? Apakah kita yang ‘memilih’ ingatan itu? Dan bukannya ia muncul dengan sendirinya secara acak di kepala kita, membuat kita menebak-nebak apa yang akan muncul lagi berikutnya?

Kamu tahu Dan, otak manusia mampu menyimpan memori sebanyak 10 pangkat 800 (aku mengutip kata-kata Isaac Asimov yang profesor dan penulis fiksi ilmiah terkenal itu). Katanya lagi, jumlah atom di jagad raya hanya 10 pangkat 100. Nah, kamu pasti menahan napas sekarang, bukan?

Betul. Itu artinya otak manusia lebih luas dan rumit dibandingkan dengan alam raya.

Dan soal ingatanku tentang sandal Ken hanya sepersekian (dengan pangkat bilangan penyebut yang entah seberapa besar) dari kemampuan otak kita.

Kembali ke soal penyebab ingatan itu muncul kembali.

Menurutku, sebenarnya otak kita tetap menyimpan rapi semua hal, dan sepertinya, sebagian kenangan itu muncul karena terpanggil.

Aku teringat soal sandal Ken yang tercebur itu karena baru saja melihat sandal bermodel nyaris sama di sebuah etalase toko siang ini. Aku memanggil kembali kenangan itu melalui daya visualku. Aku melihat sandal anak-anak berwarna coklat. Sandal Ken. Lalu aku meneleponmu, dan kamu juga mengingat kembali kejadian itu melalui daya dengarmu, melalui gambaran bentuk sandal Ken di masa lalu yang kudeskripsikan dengan kata-kata.

Alam, dan kita, yang terkadang memanggil masa lalu, Dan.

Untungnya, masa lalu yang ‘terpanggil’ siang ini adalah kenangan manis masa kecil kita.
Jadi kupikir, seharusnya aku pun bisa mengendalikan kenangan yang akan kuingat dan tidak. Eh, mungkin pertanyaannya perlu diralat, tepatnya: seberapa berani aku mengendalikan kenanganku?

Kamu pasti mengerti maksudku.

Lalu bagaimana menurutmu, Dan?

May.

(by nita)

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [Flash Fiction] Tentang Memori at Little Cubicle.

meta

%d bloggers like this: