[Flash Fiction] Charmed

April 11, 2010 § Leave a comment

“Ayo dong, Pia… “

Sekali lagi Pia menggeleng kuat-kuat, cemberut. Memusatkan konsentrasi pada gado-gado di depannya. “Enggak, enggak mau.”

Di pojok kantin, Dude dan Luki sedang menyantap pesanan sambil mengobrol. Dan Rossa masih menatap mereka penasaran, lalu kembali membujuk Pia. “Sebentar aja, kok. Ayo dong, kapan sih kamu mau pede-an dikit?”

Jelas mereka punya persepsi berbeda soal mendatangi para cowok keren—yang nggak pernah ada urusan dengan mereka—dan kebetulan sedang makan di tempat yang sama.

Buat Rossa, itu semacam obsesi dan tantangan. Bagi Pia, itu hal paling norak  sedunia.  Oke, dia tahu Rossa luar biasa cantik. Tapi centilnya kadang membuat mual. Oh, bukan karena Rossa tak pantas bersikap centil (percayalah, dia sosok menyebalkan yang tetap seperti bidadari meskipun habis tercebur lumpur di sawah saat kerja praktik lapangan)—tapi karena Rossa sebenarnya tak perlu over acting menunjukkan keelokannya itu. Beuh, aku terdengar seperti teman yang sirik setengah mati, gerutu Pia dalam hati.

Rossa dengan sabar menanti gado-gado Pia habis, lalu berdiri. “Bayar, yuk.”

Sesuai perjanjian, siang ini mereka membayar masing-masing. Pia cemberut menyadari kalau mereka akan mendatangi kasir, persis di sebelah meja Dude dan Luki. Ya sudah, apa boleh buat.

“Lhoo.. kok Kak Dude ada di sini, sih?” seru Rossa sehabis membayar. Sumpah, aktingnya memang sempurna. Kedua kakak angkatan itu berhenti mengobrol dan menatap cewek di hadapan mereka, setengah bingung. Dude mengunyah mie godog-nya lambat-lambat. Wajahnya memerah.

“Eh, kenapa memangnya?” Luki buka suara.

Merasa ditanggapi, Rossa meneruskan dengan lincah. “Di fesbuk katanya Kakak siang ini tanding basket, kan? Enggak jadi ya? Aduh, padahal aku pengen banget lho nonton.”

Pia makin cemberut di belakang Rossa. Emang penting gitu, kalo Rossa nonton Dude main basket? Tapi harus Pia akui, Dude kelihatan salah tingkah. Hah, cowok memang gampang terpesona wajah rupawan. Dan kenapa cowok keren tetap terlihat cakep walau sedang melongo begitu?

Setelah beberapa menit berceloteh di sana, akhirnya Pia berhasil membawa Rossa menyingkir.

“Aduh Ros, kapan kamu kapok tebar pesona kayak gitu.” Pia uring-uringan ketika melewati taman fakultas.

Rossa malah tertawa ge-er. “Kamu lihat Dude tersipu-sipu? Sampai susah ngomong. Ih, cute banget yaa?”

Pia hanya mengerang, jengkel.

Di waktu yang sama, tak jauh dari kantin, Dude keluar dari toilet sambil memegangi perutnya. “Aduh, nasib.. nasib. Ngegigit cabe utuh saat-saat terakhir. Dan kamu nggak sopan betul menghabiskan minumanku, Ki! Ditambah terjebak oleh cewek tadi—siapa sih dia? Kamu kenal?”

“Lho, kukira kamu yang kenal dia,” kata Luki, tertawa-tawa. “Udah ah. Jadi ke dosen, nggak?”

Dan tak ada yang bersusah-payah mengingat Rossa lagi setelah itu.

(by nita)

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [Flash Fiction] Charmed at Little Cubicle.

meta

%d bloggers like this: