[Flash Fiction] Jejak

April 7, 2010 § Leave a comment

Bukit di desa ini agak meranggas.

Tapi masih tempat yang sama. Dengan orang yang sama—di sisinya.

“Sudah berapa lama ya, Pras?” Elida melempar setangkai ranting ke bawah. Tak cukup jauh sampai ke anak sungai yang mengalir keruh. “Dua puluh tahun?”

Pras tertawa lembut. Duduk berjongkok tak jauh darinya. Dahinya berkerut, mengingat-ingat. “Dua puluh delapan tahun, Eli.”

Mata Elida membulat. Pras tertawa renyah lagi.

Sudah lama sekali. Ah.

Tapi seperti baru saja kemarin Elida datang ke toko kecil milik orangtua Pras, duduk di atas lantai semen, berceloteh apa saja—dan Pras mendengarkannya dengan sabar. Memberinya selembar kertas dan sebatang pensil. Membiarkannya menggambar dan terus bercerita. Sampai Mbah Putri harus memanggil lebih dari lima kali dari halaman sebelah, agar Elida pulang dan tidur siang.

Tapi Elida tak akan pulang sebelum Pras mengambilkannya satu butir permen jahe—yang murah tapi enak sekali. Sebutir permen yang selalu didapatnya tanpa harus membayar.

“Dua puluh delapan tahun, dan kau sudah sangat… berbeda.” Elida menunduk, angin menerbangkan dedaunan kering di dekat kakinya. “Sementara aku…”

Pras menoleh. Gadis itu berdiri di sana, akhirnya, setelah puluhan tahun terpisah jarak dan waktu.

“Karena dunia terus bergerak, Eli. Dan kita pun begitu.” Suara lembut Pras menggantung. “Apa kau tahu? Aku selalu membayangkanmu akan jadi seperti sekarang, Eli. Menjadi wanita sukses, di mana pun kau berada. Kau dan mimpi-mimpimu, dan sekarang kau berhasil mendapatkannya…”

Elida tak berani memandang sosok di sebelahnya. Terlalu takut kejujuran di matanya yang memanas akan terbaca.

“Bapaak!”

Seorang bocah berlari naik dari jalan setapak. Rambut dan mata Pras melekat di wajah cerianya. Sosok wanita berwajah ayu menyusul di belakang. Salah satu tangannya membawa rantang makanan.

Elida tersenyum. “Karmila,” katanya tulus, memeluk sahabat masa kecilnya itu. “Maafkan aku jadi merepotkanmu karena berkunjung.”

“Aduh, jangan ngomong begitu, El.” Karmila berbinar. “Aku senang kau masih mau mampir ke desa walaupun Mbah Putri sudah ndak ada.”

Karmila melangkah ke bawah sebuah pohon, mulai menggelar isi rantang. Pras mengangkat si kecil Adin ke punggungnya, menatap Elida, yang kini juga memandangnya.

Lalu ia berkata pelan.

“Eli. Selalu ada permen jahe untukmu di toko.”

(by nita)

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [Flash Fiction] Jejak at Little Cubicle.

meta

%d bloggers like this: