[Flash Fiction] The Basement

March 17, 2010 § Leave a comment

Ciit!

Rem mobil pick up yang dikendarai Joko berdecit menuruni jalan melingkar area parkir bawah tanah Mal Pratama. Hanya berjarak beberapa senti di kanan kirinya dengan dinding, jalan di depan cuma diterangi oleh lampu mobil dan beberapa lampu di langit-langit basement.

Selebihnya hanya dinding abu-abu suram dan berputar-putar.

Joko melirik ke sebelahnya. Di sisi pintu kiri mobil tampak Gun mencengkeram pegangan pintu kuat-kuat. Di tengah, Rina adiknya duduk diam, tegang menatap ke depan.

“Mas, kita kok nggak keluar-keluar dari parkiran, sih?” akhirnya suara Rina yang mencicit memecah keheningan. Selain suara mesin mobil, seolah hanya mereka yang ada di labirin parkir berwujud jalan melingkar.

Aneh rasanya. Begitu banyak mobil terparkir, namun tak seorang pun tampak. Dan mereka masih berputar-putar sejak setengah jam lalu, berusaha mencari jalan keluar gedung.

Joko mengusap keringat dingin.

“Sial, kenapa semua lorong parkir ini jadi kelihatan sama?” Joko menggerutu. Mereka sudah mulai berkeringat berada di wilayah parkir berdinding tebal dan luas tanpa ventilasi.

“B-1,” Gun membaca nomor yang tertera di salah satu tiang basement.  “B iku opo tho, Mas?”

“Basement,” sahut Joko setengah tak sabar. “Iku boso Enggres. Artine; lantai bawah tanah. Kira-kira gitu dah. Biar cuma buruh angkut sembako, aku ngerti ngono-ngono kuwi, Gun.”

Hening lagi. Suara pick up berderum, berbelok ke lingkaran parkir berikutnya. Joko geram. Kali ini ia memasang mata benar-benar, mengikuti tulisan EXIT.

“Lho, kok ke sini lagi tho?” Rina bingung. Angka B-1 muncul di kanan-kiri mereka. Joko dan Gun saling berpandangan. Jelas-jelas mereka tadi naik satu lantai. Tapi kenapa kembali ke tempat yang sama? Dan masih tak ada orang di sekitar mereka.

“Jok,” Gun mulai beringsut tak nyaman. “Kalo ndak salah, ini Mal yang di berita itu tho? Yang ada kecelakaan parkir itu lho. Bablas njebol tembok… terus ada yang mati… Jangan-jangan…”

Rina mulai pucat. “Aduuuh, Gun, nggak usah ngomong aneh-aneh tho! Kita cuma disuruh ambil sembako ama Bu Haji. Titik. Nggak mau aku denger-denger cerita anehmu.”

Joko mendelik pada Gun yang langsung mengkeret. Sementara Rina mulai komat-kamit membaca doa, rupanya terpengaruh oleh kata-kata Gun.

“Jok, opo ndak sebaiknya kita tanya…”

“Gun… lihat tuh!” mendadak Joko berteriak. Sinar muncul di hadapan lorong parkir.  Halaman luar Mal!

“Alhamdulillaah,” Rina menangkupkan tangan ke wajah. Sementara ekspresi Gun tampak seperti baru saja lolos dari sarang beruang.

Joko bersiul pelan. “Akhirnya… Gun, lain kali nek ngomong sing bener-bener wae. Aku cuma belum hapal Mal gede ini. Jadi maklum kalo masih tersesat di parkiran…”

Pick up menanjak dengan suara ribut.

“Mas…”

“… jadi ndak usah mikir aneh-aneh…”

“Mas!” ulang Rina.

“Opo tho?” Joko mengikuti pandangan adiknya ke depan.

Halaman yang asri dan luas terbuka, dengan jejeran mobil dan orang lalu lalang. Tidak ada yang aneh.

“Itu…” kali ini Gun ikut terbelalak. Joko mengernyitkan dahi.

Jauh, jauh di depan sana, di seberang jalan raya yang lebar, dan masih berjarak beberapa gedung, berdiri megah bangunan bertingkat delapan dengan tulisan bergaris elegan, mencolok di bagian atasnya: MAL PRATAMA.

(by nita)

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [Flash Fiction] The Basement at Little Cubicle.

meta

%d bloggers like this: