[Flash Fiction] Sang Biduan

March 14, 2010 § Leave a comment

Wulan sedang mengoleskan lipstik ketika pintu depan terbuka.

Ibu masuk tergesa, menutup pintu di belakangnya. Tangannya yang membawa kantong plastik hitam agak gemetar.  “Nduk, Ibu beli ini buatmu.”

Anak perempuan itu meletakkan tube lipstik dan meraih sisir. Memberi sentuhan sedikit anak-anak rambut di atas dahi. Rambutnya sudah disasak, tinggal menyemprotnya dengan hairspray.

“Beli apa, Bu?” Wulan memicingkan mata ketika menyemprot, sambil menoleh ke Ibu dengan senyum manis.

Ibu mendekat. Dengan gugup mengeluarkan isi kantong plastiknya. Sebuah buku mungil bersampul merah-kuning. Tuntunan Shalat dan Bacaannya.

Wulan tertawa kecil. “Ibu, kan Wulan sudah bilang, nanti biar Wulan beli sendiri. Lagian, Ibu dapat uang darimana?”

Ibu bergantian memandang ke arah pintu dan putri tunggalnya. Satu-satunya anak perempuan yang kematangannya jauh di atas dirinya, sang ibu.

“Ibu ingin beli pake uang sendiri, Nduk… biar malaikat catat kalau Ibu pernah belikan kamu buku sholat… Ibu ndak bisa ngajari kamu… ndak bisa bahasa Arab…”

Wulan lagi-lagi tertawa. Tawa dewasa yang aneh karena keluar dari bibir bocah empat belas tahun. “Ya ampun, Ibu. Iya, iya… Wulan memang lebih hapal lagu-lagunya Maha Dewi sama Syahrini… sampai lupa-lupa ingat bacaan sholat. Nanti kalau Wulan pas libur nyanyi, mau kok belajar sholat lagi…”

Ibu menelan ludah. Tangannya yang mulai mengeriput meraba takut-takut rambut anaknya, matanya berkaca. “Bener ya Nduk? Mau baca buku yang Ibu belikan? Janji ya rajin sholat lagi? Doain Ibu habis sholat? Biar Ibu bisa ketemu Gusti Allah di surga?”

“Ih, Ibu ngomong apaan sih?” Wulan kini berdiri mematut diri. Dengan tubuh bongsor dan dandanan bak selebriti, tak ada yang menyangka ia baru duduk di bangku SMP—dengan biaya sendiri pula. Ia tersenyum pada Ibu.

“Iya iya, janji.” Ia menerima kantong plastik dari Ibu.  “Sudah, nanti ketahuan Bapak. Sekarang Ibu istirahat aja… tadi nyambi kerja di rumah siapa? Kan udah Wulan bilang, Ibu nggak usah kerja… nanti asmanya kambuh… biar Wulan sama Bapak aja yang cari duit…”

Brak!

Ibu terlonjak. Di pintu, Bapak berdiri dengan mata memerah. Bau bir murahan menyeruak. Tangannya goyah menunjuk-nunjuk Ibu. “Kamu! Kamu tadi abis dapet duit banyak dari Nyonyah Kaya itu kan? Iya kan? Ngaku! Mana… mana duitnya?!”

Ibu gemetar hebat. Wulan maju, wajahnya cemas. “Pak, udah Pak. Kan kita mau manggung ini. Wulan udah siap…”

“Nggak bisa! Duitnya dulu! Semua duit di rumah ini kudu gua pegang!” Mata Bapak nyalang, tertumbuk pada plastik di tangan Wulan. “Itu ya? Duitnya dipake buat itu?”

Ia menyambarnya. Ibu dan Wulan menjerit, buku bersampul merah-kuning jatuh ke lantai. Aksara Arab menghadap ke atas. Bapak mengangkat wajah garang.

“Ngapain kamu beli ginian? Buang-buang duit! Mana sisanya?!” Tangan Bapak melayang, gampar Ibu, bertubi-tubi. Wulan menjerit-jerit. Ibu terjerembab. Tak bergerak.

Di atas buku mungil bersampul merah-kuning.

(by nita)

Advertisements

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [Flash Fiction] Sang Biduan at Little Cubicle.

meta

%d bloggers like this: