[Flash Fiction] Pagi Itu

March 10, 2010 § Leave a comment

“Masih jauh, Ri?” Ibu bertanya.

Ais yang berjalan di sisi Ibu hampir menyemburkan celoteh, namun redup ketika sadar aku melotot padanya. Mataku berkata, diam.

Ibu masih berjalan di depan dengan Ais. Aku lambat-lambat mengekor.  Mengawasi. Trotoar taman kota di  sabtu pagi tak terlampau riuh. Menyesapi.  Aroma pohon kayu manis bercampur dengan bau tubuh Ibu. Ujung bibirku mengulum senyum. Tidak mudah membujuk Ibu memakai sabun mandi buatan Cik Grace—yang murah tapi wanginya bisa bertahan seharian.

Tapi pagi ini istimewa.

“Ibu harus cantik. Musti wangi.” Ais sibuk bujuk-bujuk Ibu tadi. Maka Ibu pun pakai sabun itu. Kupilihkan baju lengan panjang bermotif kembang—yang entah telah berapa lama mendekam di sudut lemari pakaian. Kusemprot sedikit dengan minyak wangi murahan dari supermarket. Ibu cantik dan wangi dan siap jalan-jalan.

“Restorannya gede ya, Ri?” tanya Ibu lagi. Tangannya genggam erat jemari milik Ais. Gugup. Tapi senang. Aku masih mengekor.  Mengawasi. Kali ini Ais curi-curi pandang ke arahku.

“Lumayan, Bu.  Tapi akhir pekan biasanya ramai pengunjung. Nanti kita duduk di bangku taman aja, ya. Aku yang ambilkan makan untuk kita.”

“Asyiik, piknik! Kita piknik ya Bu!” kali ini Ais tak mampu menahan celetukan. Seketika ia menutup mulut dan menatapku takut-takut. Ibu masih berjalan lambat menikmati sisa udara pagi. Aku memandang Ais, tidak apa-apa.

“Restorannya di balik gedung itu, Bu. Tunggu di sini saja ya.”

Aku  pergi dan kembali dengan satu kantong plastik. Kami duduk di bangku taman.

Ibu mengulum irisan pisang bercampur kacang mentega. Hangat dan manis. Ais menjilati es krim. Aku usap-usap punggung Ibu. Kutelusuri tulang belakangnya yang melengkung. Ibu senyum.  “Terima kasih ya Ri. Entah kapan terakhir Ibu rasakan sinar matahari. Ibu senang kamu betah kerja di restoran. Kamu memang pintar masak dari dulu. Nanti antar Ibu jenguk tempat kerjamu ya. Kalau sudah sepi.”

Tenggorokanku tersumbat. Ais kembali menatapku. Sepertinya  ia tahu aku hanya beli ini di kios makan sempit di ujung jalan.

Masih kuusap punggung Ibu. Yang lama hanya berdiam di atas bale-bale. Tak boleh lama-lama ajak Ibu jalan. Tulang belakangnya tak sanggup tahan beban Ibu kalau berdiri.

“Enak, Bu?” tanyaku serak.

Ibu anggukkan kepala. Ah, wajahnya bersinar. Padahal aku yakin Ibu bingung cicipi rasanya. Belum pernah ia makan sekalipun banana split—yang tadi kupesan tanpa es. Ais juga. Sudah lupa dia berceloteh kalau sedang nikmati es krim.

“Ibu Siti?”

Aku tegakkan tubuh. Seorang bapak berambut putih gandeng anaknya, mendekat. Samar, kuingat ia tetangga kami dulu—dulu sekali.

“Pak Darman?” Ibu tak sangka berjumpa. Tapi wajahnya senang.  Semua orang saling tersenyum. “Salami tangan Ibu Siti,” kata sang bapak. Tangan si anak terjulur ingin salami Ibu.  Ibu pun ulurkan tangan.

Tapi tangan mereka tak pernah bertemu, meski sama bergantung di udara.

Aku masih bisa mendengar gaung suara bocah berambut ikal itu—polos. “Pak, ibunya buta, ya?”

Pagi yang sempurna, seharusnya.

(by nita)

Advertisements

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading [Flash Fiction] Pagi Itu at Little Cubicle.

meta

%d bloggers like this: